Palembang, 10 Mei 2024
Entah ini cinta atau...?
Sebelum aku mengenalmu, aku adalah orang yang telah menjomblo selama menempuh pendidikan S-1. Hampir 4 tahun, aku tidak memikirkan dan membebani hatiku kepada siapapun. Sekedar rasa kagum yang terlintas, lalu hilang...seakan tidak berarti apa-apa.
Ketika aku mencoba membuka hati untuk seseorang dan mencoba untuk serius pada hubungan, hadirmu juga belum berarti bagiku waktu itu. Ya mungkin pada saat itu, status kita adalah teman yang sangat akrab. Aku pun belum memiliki teman lawan jenis. Dan bagiku, itu termasuk terobosan dalam hidupku - mempunyai teman lelaki.
Waktu itu, aku mengakhiri hubunganku dengan lelaki yang menurutku telah mempermainkan hatiku. Aku mencoba move on dengan mulai mengakrabkan diri pada teman-temanku. Yang kuingat, waktu itu kita sangat dekat. Aku sering mengajakmu ke kosanku untuk mencicipi makanan yang kubuat. Aku tidak menyangka, mulai saat itu aku mulai suka padamu, temanku. Awalnya aku menepis setiap dugaan dari temanku. Ada yang bilang bahwa kamu menaruh hati padaku. Aku mulai kebawa perasaan. Ada juga yang bilang perlakuanmu terhadapku yang manis menunjukkan kau juga menaruh perasaan yang sama padaku. Tapi, aku mulai menormalkan hati ini. Aku berusaha menepisnya.
Tidak mungkin
Tidak mungkin
Aku lebih tua darimu dan aku adalah temanmu dan sekaligus kakakmu.
Kau sudah menganggapku kakak.
Tapi, hari demi hari. Aku tenggelam dan semakin berharap kita melebihi itu. Aku juga sempat memutuskan mundur dari perasaan itu di saat kau mulai cerita bahwa kau menyukai gadis di kampusmu. Responku?? ya hanya mendukungmu. Meresponmu dengan baik seakan tidak terjadi apa-apa pada hatiku.
Aku masih ingat. Aku sempat menjatuhkan air mataku. Sejak saat kau memberitahuku tentang itu, aku mulai mundur. Dan kembali menganggapmu temanmu.
Waktu berlalu. Aku telah menyelesaikan pendidikanku. Aku juga mengurangi intensitasku untuk bertemu denganmu. Namun, saat itu aku mulai baper. Baper akan kepedulianmu kepadaku. Kau membawa donat dunkin atas penyelesaian studiku. Menjelang aku wisuda (meski online), kau menghadiahkan aku sebuah teflon dan selendang "lulus dengan cinta". Mungkin bagi cewek lain, ini sangat biasa. Namun berbeda denganku, aku terharu. Ada orang yang peduli denganku. Aku mengapresiasi itu.
Di saat menunggu waktu wisudaku, kau pun mengajak aku ke Borobudur. Berdua saja. Entah, perasaan lama ku muncul kembali. Berharap suatu saat, di hatimu ada peluang untuk aku menempatinya. Tapi lagi-lagi, kau selalu membahas parfum mantanmu, lotion mantanmu, dll. Aku mulai jealous. Apakah cemburu?
Kenangan lain bersamamu. Saat kita melakukan penelitian bersama teman-teman, kita mengambil sampel. Sederhana tapi bermakna. Sepertinya ini hanya bermakna pada diriku saja.
Selesai aku wisuda, aku memutuskan untuk bekerja part time sementara aku menunggu kedatangan adikku untuk tinggal di kosanku yang lama. Aku memasukkan lamaran kerja dimana-mana. Tapi, kau begitu baik. Kau menawarkan kerja di suatu sekolah yang dimana kau juga akan bekerja disana. Ini masalahnya. Aku akan bertemu dengan mu setiap harinya. Aku sudah menebak. Aku akan stress, frustasi.
Di tempat kerja yang baru, aku ditemani ibuku sambil membawa perlengkapan dan baju-bajuku. Aku sudah 2 hari tinggal di dorm itu. Aku menunggumu. Kita saling memberi kabar "bagaimana kondisi tempat kerja kita?" Kau mulai ragu untuk kerja disana. Aku mencoba menguatkan. Hari berlalu, kau makin menunjukkan ketidakbetahanmu di dorm itu. Kau menangis di bawah tiang bendera. Sebagai wanita yang tidak berpengalaman dalam menenangkan perasaan orang, aku mencoba memberimu kata-kata motivasi. Entah apakah itu berpengaruh padamu waktu itu? atau tidak? Yang jelas, kau memutuskan untuk bertahan. Kau bertahan. Namun, tidak lama.
Di waktu kita bekerja, aku semakin nyaman pada dirimu. Kita makan siang di tangga. Ketawa sesekali saat menceritakan hal lucu, kegelisahan di tempat kerja itu, dan banyak hal. Di akhir pekan, kita sesekali menonton film untuk mengurangi kejenuhan tinggal di dorm. Fantasticnya, kau peduli pada ku dan membelikan ku bantal guling. Aku mencoba untuk menormalkan perasaan ini. Tapi, aku tertekan lagi akan pikiranku. Labil sekali.
Di suatu malam, aku sudah tidak tahan lagi akan perasaanku padamu. Aku mencoba untuk mengungkapkan padamu. Statementku di akhir pengakuanku, "tlg berteman sebagaimana sebelumnya". Di pengakuan itu, aku hanya mendapatkan kata-kata "Jika kita berjodoh, tidak akan kemana". Entah kalimat ini amat sederhana tapi banyak makna. Apakah ini penolakan? ketidakenakan? atau apalah. Sejak saat itu, aku mulai berteori cinta, dari mulai searching terkait ciri laki-laki suka, ciri-ciri friendzone, dll. Sepertinya aku mulai sedikit paham tentang cinta. Ah, riset cinta.
Namun
Aku tidak tahu satu hal.
Ternyata dia menyukai seseorang wanita di tempat kerja. Dia sakit ketika orang yang ia cintai menganggap kami (aku dan kamu) adalah orang yang dekat alias pacaran. Dirimu tidak bisa melakukan pendekatan lagi dikarenakan rumor aku dan dirimu. Ditambah, kamu mengekspresikan kesedihanmu di tiktok. Dan aku mulai tahu, siapa wanita itu? Saat itu, aku menangis untuk kedua kalinya. Aku sedih pada diriku sendiri. Aku serasa tidak bervalue. Walaupun sebenarnya ketika aku pikirkan di masa sekarang, "Aku ditolak, bukan berarti aku tidak bervalue". Aku pernah menangis untukmu saat kita makan sore di hall. Aku mencoba untuk bersikap biasa. Tapi tidak bisa. Aku terlalu ekspresif hingga kau bisa menebak diriku.
Hari berlalu. Kau sepertinya mulai menunjukkan kedekatanmu pada seseorang di status whatsappmu. Aku berusaha memahamimu. Tapi, aku bodoh sekali. Aku masih menaruh perasaanku padamu meski kau telah jelas menjalin hubungan pada seseorang.
Di hari kita mulai berpisah kerja, kau antar aku ke mobil mudik. Kau harus tahu. Aku segugukan menangis saat itu. Kita berpisah.
Hari-hariku menjalani kerja tanpa dirimu, aku mulai membiasakan diri. Makan sendiri. Jalan sendiri. Aku merasa seperti ditinggal seorang diri di tempat ini. Aku mulai semakin tidak nyaman bekerja. Aku mencoba untuk mencari tempat kerja lain.
Saat itu, meski kita sudah berpisah. Kita masih berkomunikasi. Aku berpikir, kau akan betah di tempat kerja barumu dan tidak akan kembali kesini. Aku salah. Kau memutuskan bekerja di tempat yang sama. Akhirnya, kita bersama kembali. Entah ini akan menjadi derita kembali atau bahagia setelah bertemu denganmu? Ku dengar, kau juga masih LDR pada pacarmu. Pikirku "oh masih". Perlu kau ketahui, aku sudah mulai bisa sedikit move on. Tapi perasaan itu muncul lagi. Oh astaga, ini sangat membuatku menderita. Cinta sepihak. Friendzone.
Betapa bodohnya aku. Akibat munculnya dirimu di tempat yang sama, aku seperti mengalami swingmood. Mood cemburuku, marahku, bahagiaku, sedihku selalu terjadi di akhir pekan dan di akhir bulan. Kadang aku menakutkan. Aku takut pada diriku sendiri.
Selama kita bekerja, kadang kita berbeda argumen, berbeda pemahaman, dan terkadang kita suka iri-irian. Kadang kau marah tanpa sebab. Kadang aku marah tanpa sebab.Tapi di fase ini, aku mulai sadar bahwa bukan aku tujuanmu. Aku hendak mencoba menerima itu. Namun, rasanya sungguh berat. Aku tidak menolak ajakanmu menonton, dll. Semakin kesini, kita amatlah tidak cocok. Komunikasi kita. Amarah kita. Prinsip beragama kita. Cara beragama kita. Terkadang, aku semakin sadar, bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu, termasuk sebagai teman. Aku terlalu banyak mendengarkanmu. Tanpa kau bertanya, "bagaimana keadaan hariku hari ini?" Aku yang terlalu banyak mengetahui tentangmu. Tanggal lahirmu. Penyakitmu. Keluargamu. Makanan kesukaanmu. Ceritamu. Masalahmu. Kisah kecilmu. Masalah keluargamu.
Adakah kau ingin mengetahui tentangku sedikitpun? Sebagai apa aku di matamu? Terkadang aku berpikir, mungkin ketika kau menemukan orang yang cocok denganmu nanti, kau akan melupakan namaku dan peran hadirku di hidupmu. Jika demikian, semoga engkau lebih bahagia.
Dari ceritaku ini, aku sangat mengharapkan untuk pembaca agar lebih berhati-hati berteman pada lawan jenis. Aku juga tidak menduga bahwa perasaanku menjadi seperti sekarang. Jauhi friendzone, ketika kamu sadar.
Dan buat diriku, semoga mendapatkan dan menemukan orang yang lebih mencintaimu. Orang yang menerima keluargaku dan kekuranganku.
Ini ceritaku tentang friendzone. Semoga selalu bahagia.
Nama pena,
MM
Komentar
Posting Komentar