Hi, i am Mrs Cur Cool. Haduh aku mau curcol nih terkait putusnya hubunganku ama seseorang karena weton. sedih sih dan sakit bahwa hubungan harus berakhir karena bukan dari kesalahan yang kita perbuat. Kisah itu berawal dari ini....
Aku wanita yang berasal dari sumatera. 2020, aku berniat untuk berkuliah di jawa. Hubunganku dengan dia sudah dimulai di penghujung 2019. Kami komunikasi melalui instagram di saat itu. Pendekatan dilakukan oleh dia dengan menanyakan status ku dan rencana kedepan. Di saat itu, aku berstatus single dan terlalu lama single hingga membuat aku membuka hati dan merespon tiap DM yang masuk. Lama-lama aku jatuh hati dengan kerja keras dia. Kedekatan kami membuat kami menanyakan hal hal privasi seperti keluarga, pacar, dan lain-lain. Ku pikir apa yang kami komunikasikan ini adalah hal-hal menuju keseriusan.
Desember 2020. Mungkin itu di sekitar pertengahan bulan. Aku melakukan tes masuk di universitas terkemuka di Yogyakarta. Kami berjanji untuk bertemu di gelanggang mahasiswa. Hari itu sangat aku nantikan. Pasalnya kami hanya berkomunikasi via media sosial. Dan hari itu, kami akan bertatap muka. Batinku kegirangan. Di jam 13.00 WIB, kami bertemu di tempat yang dijanjikan. Kami memesan bakso dan saling bercakap terkait kemajuan hidup. Kesukaanku kepadanya bertambah sejak saat itu. Aku benar-benar serius kepadanya. Ya, benar. Aku termasuk tipe orang yang setia dan tidak bisa berpaling jika sudah benar-benar menyukai orang. Selesai makan, aku pamit kepadanya dan dia pun pamit ke Solo.
Setelah hari itu, kami kembali berkomunikasi via medsos. Dia di solo dan aku di jakarta yang saat itu tengah menjalankan program dari beasiswa. Selesai menjalankan kegiatan tersebut, Aku bertolak ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di Februari. Kegiatan akademik dimulai. Aktivitas makin padat. Akibat rutinitas sebagai pelajar, niatku hendak ke solo selalu batal. Allah berencana. Di bulan Maret, Indonesia mendapatkan musibah Covid-19. Pergerakan manusia terbatas. Hal itu membuat diriku tidak bisa mengunjungi solo. Kami hanya bercakap dan menelpon jika kami rasa rindu. Menanyakan kabar satu sama lain.
Waktu berjalan. Saat itu, umat islam tengah menjalani ibadah puasa. Lalu, umat islam menyambut malam takbir. Di malam itu, aku mendapatkan pesan WA dari seseorang yang dekat sejak bulan 9 2019. Aku membuka pesannya yang menjelaskan tanggal lahir dan kaitan dengan karakternya. Aku bingung. Lalu, dia menjelaskan istilah 'weton' yang sangat amat asing bagiku sebagai wanita sumatera. Ok, aku paham ketika menjelaskan istilah itu. Akan tetapi, setelah itu dia menanyakan tanggal lahirku. Aku pun bingung kembali. Tanpa berpikir keras, aku pun memberikan tanggal lahirku. Selang dari itu, dia mengirimkan pesan bahwa aku lahir di Jumat Kliwon. Menurutnya, Jumat Kliwon tidak cocok dengan Sabtu Kliwon (Ya, dia lahir di Sabtu Kliwon). Kepribadian kami tidak cocok jika bersatu. Aku bingung mau membalas apa. Sementara, aku masih bingung terkait weton ini. Aku memutuskan untuk tidak membalas terlebih dahulu karena hendak berpikir.
Di satu sisi, aku ingin mempertahankan hubungan kami dan melanjutkan nya ke jenjang serius. Di sisi lain, adatnya telah membudayakan weton dan dia percaya akan weton. Dia berpikir jika kami menikah maka rumah tangga kami akan kacau. Dia pun tetap mempertahankan tradisi weton.
Selang 10 menit berlalu, aku mengambil sikap. Aku memutuskan hubungan kepadanya. Aku tak ingin dia terbebani. Dia juga tidak mempunyai solusi dan tidak mempunyai landasan bahwa awetnya pernikahan didasari oleh rasa percaya pasangan, menyayangi... Bukan karena weton. Tapi weton adalah pilihan dia. Dan aku harus menerima. Mungkin dia bukan jodohku
Komentar
Posting Komentar